skip to main | skip to sidebar

GRABALONG

dalam bahasa samawa, yaitu Gra = cakap, tampan/cantik & Balong = bagus/baik, indah. jadi Grabalong artinya keindahan yang sempurna atau sejati.

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Minggu, 22 Februari 2015

MOTIVASI DALAM BELAJAR

Diposting oleh Unknown di 08.51 Label: Makalah, Psikologi Pembelajaran & Perkembangan
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini, sudah tak dapat dielakkan lagi bahwa minat untuk belajar seseorang akan mudah sekali naik turun. Agar minat untuk belajar ini senantiasa tetap naik dalam waktu ke waktu, maka setiap siswa harus memiliki keinginan untuk tetap terus belajar. Agar keinginan untuk tetap terus belajar itu ada dan semakin meningkat frekuensinya, maka setiap siswa tentu saja harus memiliki motif-motif tertentu yang menyebabkan ia harus tetap semangat belajar.

Keseluruhan motif-motif  yang menjadikan seseorang menjadi semangat belajar ini, secara umum dapat dikatakan sebagai motivasi. Maksud dari motivasi belajar disini adalah keseluruhan daya penggerak yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan belajar dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga tujuan dapat tercapai.

Berdasarkan pengertian motivasi tersebut, sudah sangat jelas bahwa motivasi dalam proses belajar sangat penting. Karena yang dibicarakan adalah proses belajar, maka manfaat motivasi tidak hanya dirasakan oleh siswa, namun juga oleh seorang guru. Melalui pengetahuan tentang motivasi, seorang guru dapat mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas, bahakan dapat juga membantu sisiwa untuk meningkatkan motivasinya. Mengingat pentingnya pengetahuan akan motivasi, maka pembahasan mengenai motivasi belajar dirasa perlu untuk diangkat.

B.     Tujuan
Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan motivasi dalam belajar, baik berupa teori-teori maupun factor-faktor yang mempengaruhinya sehingga menambah keilmuan kita dalam mata kuliah psikologi pembelajaran dan perkembangan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Motivasi Dalam Belajar
Pengertian motivasi, yaitu suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya (Ria,V.2012). Peryataan ini sejalan dengan Hamzah B.Uno dalam Ria,V (2012) motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.

Definisi diatas sesuai dengan definisi yang diutarakan oleh ahli lain seperti J.P Chaplin(2001) motivasi merupakan suatu variabel yang mempengaruhi serta menimbulkan factor-faktor tertentu dalam organisme, membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju sasaran. Senada dengan teori tersebut Munadar (2001) juga menjelaskan bahwa motivasi adalah suatu proses dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang unuk melakukan kegiatan yang mengarah tercapainya tujuan tertentu.

Berdasarkan beberapa pengertian motovasi yang telah dikemukakan para ahli sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah pendorong bagi perbuatan seseorang atau merupakan motif mengapa seseorang melakukan suatu proses belajar. Motivasi juga  menyangkut mengapa seseorang berbuat demikian dan apa tujuanya sehingga seseorang mau melakukan kegiatan belajar.

B.     Teori-Teori Motivasi
Elida dalam Ria (2012) Teori motivasi dibagi menjadi 3 yaitu:
1.      Teori kebutuhan
Teori ini mengatakan bahwa manusia  sebagai mahluk yang tidak akan puas hanya dengan terpenuhi satu kebutuhan, tetapi ia akan puas jika semua kebutuhan terpenuhi. Walaupun  semua  kebutuhan sudah terpenuhi pasti ia akan mengejar kebutuhan yang baru. Agar kebutuhan tersebut terpenuhi, maka ia akan termotivasi untuk mencapai kebutuhan yang diinginkan. Sehingga membuat ia puas, tetapi kepuasan itu hanya untuk sementara waktu saja. Demikian seterusnya, sampai terpuaskannya kebutuhan yang paling tinggi.
2.      Teori Humanistik
Teori ini percaya bahwa hanya ada satu motivasi, yaitu motivasi yang hanya berasal dari masing-masing individu.  Motivasi tersebut dimiliki oleh individu itu sepanjang waktu dan dimana pun ia berada. Yang penting lagi menurut teori ini adalah menghormati atau menghargai seorang sebagai manusia yang mempunyai potensi dan keinginan untuk belajar.

3.      Teori Behavioristik 
Teori ini berpendapat bahwa motivasi dikontrol oleh lingkungan. Suatu tingkah laku yang bermotivasi terjadi apabila konsekuensi tingkah laku itu dapat menggetarkan emosi individu, yaitu menjadi suka atau tidak suka. Apabila konsekuensi tingkah laku menimbulkan rasa suka, maka tingkah laku menjadi kuat, tetapi jika tingkah laku itu menimbulkan rasa tidak suka,  maka tingkah laku itu akan ditinggalkan.

Sedangkan menurut Wahjosumidjo dan Mujito (1985) terdapat 5 teori motivasi yaitu:
1.      Teori Hedonistis
Teori ini mengatakan bahwa segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak disadari, entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam  pada dasarnya mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan. Akibat dari teori ini adalah banyak siswa yang pasif, suka menghindari tugas. Oleh karena itu siswa harus dimotivasi secara tepat agar aktif dan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.

2.      Teori Insting
Teori ini mengatakan kekuatan biologis adalah kekuatan yang dibawa sejak lahir. Kekuatan biologis inilah yang membuat seseorang bertindak menurut cara tertentu, demikianlah dasar pemikiran teori ini. Kekuatan insting inilah yang seolah-olah memaksa seseorang untuk berbuat dengan cara tertentu, untuk mengadakan pendekatan kepada rangsangan.
3.      Teori Hasil Belajar
Teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia bukan didorong oleh naluri seperti hewan tetapi merupakan hasil belajar. Belajar dari lingkungan dan kebudayaan dimana seseorang itu hidup. Konsekuensi dari teori ini seorang pengajar harus memotivasi siswa serta memperhatikan naluri dan budaya dimana seseorang atau kelompok siswa itu hidup.
4.      Teori Daya Pendorong
Teori ini mengkombinasikan teori naluri dan teori hasil belajar. Daya pendorong disebut sebagai semacam naluri namun kekuatan dorongannya dipengaruhi oleh budaya. teori dorongan memberikan tekanan pada hal yang mendorong terjadinya tingkah laku.
5.      Teori Kebutuhan
Teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Dalam diri manusia berkembang 2 motivasi motivasi dasar pertama berhubungan dengan kelangsungan hidup tidak hanya berlangsung tetap hidup namun juga mempertahankan cara hidup tertentu. Motivasi dasar kedua adalah mewujudkan diri atau mengaktualisasi diri. Hal ini berarti menjadikan apa yang terdapat pada diri sendiri menjadi kenyataan melalui berbuat. Tujuan dari motivasi dasar kedua ini adalah untuk memiliki kehidupan yang penuh arti atau bermakna.
C.    Aspek-aspek Motivasi Dalam Belajar

1.      Motivasi intrinsik
Thornburgh dalam Elida Prayitno dalam Ria,V(2012) berpendapat bahwa motivasi intrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong dari dalam diri (internal) individu. Individu yang digerakkan oleh motivasi intrinsik, baru akan puas kalau kegiatan yang dilakukan telah mencapai hasil yang terlibat dalam kegiatan itu. Motivasi intrinsik merupakan dorongan atau kehendak yang kuat yang berasal dari dalam diri seseorang.  Semakin kuat motivasi intrinsik yang dimiliki oleh seseorang, semakin besar kemungkinan ia memperlihatkan tingkah laku yang kuat untuk mencapai tujuan.

2.      Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik dinamakan demikian karena tujuan utama individu melakukan kegiatan adalah untuk mencapai tujuan yang terletak di luar aktivitas belajar itu sendiri, atau tujuan itu tidak terlibat di dalam aktivitas belajar. Menurut Singgih D. Gunarsa, dalam Ria,V (2012) yang dimaksud dengan motivasi ekstrinsik adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui pengamatan sendiri, ataupun melalui saran, anjuran atau dorongan dari orang lain.

D.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi Dalam Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa, diantaranya:
1.      Cita-cita dan aspirasi siswa
Di sini dapat dikatakan bahwa cita-cita akan memperkuat motivasi  belajar siswa. Misalnya cita-cita siswa untuk menjadi pemain bulu tangkis  akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar, ia  akan rajin berolah raga, melatih nafas, berlari, meloncat, disamping tekun berlatih bulutangkis.
2.      Kemampuan siswa
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau  kecakapan mencapainya. Contoh: seorang anak yang tidak biasa mengucapkan huruf di beri latihan berulang kali sehingga mampu mengucapkan huruf,  keberhasilan atau kemampuan ini memuaskan dan menyenagkan hatinya,  secara perlahan-lahan terjadilah kegemaran membaca pada anak ini. Secara  ringkas dapatlah dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
3.      Kondisi siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi-kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Contoh: seorang siswa yang sedang sakit  akan mempengaruhi perhatian belajar, sebaliknya seorang siswa yang sehat  akan mudah memusatkan perhatian. Dengan kata lain, kondisi jasmani dan  rohani siswa berpengaruh pada motivasi belajar.
4.      Kondisi lingkungan siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat  tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota  masyarakat maka siswa terpengaruh oleh lingkungan sekitar.  Bencana alam,  tempat tinggal yang kumuh, ancaman rekan yang nakal, perkelahian antar  siswa akan menganggu kesunguhan belajar. Di dalam sumber tersebut tidak diuraikan tentang sarana dan prasarana.
5.      Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Guru adalah seorang pendidik professional. Ia bergaul setiap hari  dengan  puluhan  siswa. Interaksi efektif pergaulannya akan mempengaruhi  pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa. Dengan kata-kata yang arif  seperti: suaramu membaca sangat merdu, maka pujian guru tersebut dapat  menimbulkan kegemaran membaca.

Dari berbagai kajian teori tentang motivasi belajar siswa, maka yang  dimaksud dengan motivasi belajar siswa dalam penelitian ini adalah dorongan  atau kemauan yang muncul dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas  belajarnya dengan giat sehingga mendapat kepuasan/ganjaran diakhir  kegiatan belajarnya dan agar kualitas hasil belajar siswa juga  memungkinkannya dapat diwujudkan serta tercapai tujuannya  yaitu  memiliki  prestasi tinggi di sekolah, memiliki pengetahuan, keterampilan maupun pengalaman yang dapat dibanggkan.

E.     Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Motivasi  sangat  berperan  dalam  belajar.  Dengan  motivasi  inilah siswa  menjadi  tekun  dalam  proses  belajar,  dan  dengan  motivasi  itu pulalah  kualitas  hasil  belajar  siswa  juga  kemungkinannya  dapat diwujudkan. Siswa  yang  dalam  proses  belajar  mempunyai  motivasi  yang kuat  dan  jelas  pasti  akan  tekun  dan  berhasil  belajarnya. Kepastian  itu  dimungkinkan  oleh  sebab  adanya  ketiga  fungsi motivasi sebagai berikut:

a.       Pendorong orang untuk berbuat dalam mencapai tujuan.
b.      Penentu  arah  perbuatan  yakni  kearah  tujuan  yang  hendak dicapai.
c.       Penseleksi  perbuatan  sehingga  perbuatan  orang  yang mempunyai  motivasi  senantiasa  selektif  dan  tetap  terarah kepada tujuan  yang ingin dicapai (Sabri, 1996).
Motifasi itu mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak, motifasi itu berfungsi sebagai penggerak atau sabagai motor yang memberikan energi (kekuatan) kepada seseorang untuk melakukan suatu tugas. Motifasi itu  menentukan arah perbuatan, yakni kearah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita.

Motivasi mencegah penyelewengan suatu tujuan atau cita-cita. Motivasi  mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus ditempuh. Berdasarkan arti dan fungsi motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi  itu bukan hanya berfungsi sebagai penentu terjadinya suatu perbuatan tetapi juga  merupakan penentu hasil perbuatan. Motivasi akan mendorong untuk bekerja  atau melakukan sesuatu perbuatan dengan sungguh-sungguh (tekun) dan  selanjutnya akan menentukan pula hasil pekerjaannya.

F.     Ciri-ciri Motivasi Dalam Belajar

Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ini dapat dikenali melalui proses belajar mengajar di kelas sebagaimana dikemukakan Brown dalam Muzzamilah (2012) sebagai berikut:
1.    Tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh;
2.    Tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan;
3.    Mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru;
4.    Ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas;
5.    Ingin identitasnya diakui  oleh orang lain;
6.    Tindakan, kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontrol diri;
7.    Selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali; dan
8.    Selalu terkontrol oleh lingkungannya.

Sedangkan menurut Sardiman dalam Azyraf (2013) bahwa motivasi yang ada dalam diri seseorang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.         Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai). 
2.         Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3.         Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah (minat untuk sukses).
4.         Mempunyai orientasi ke masa depan.
5.         Lebih senang bekerja mandiri.
6.         Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).
7.         Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).
8.         Tidak pernah mudah melepaskan hal yang sudah diyakini.
9.         Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

G.    Cara mengembangkan Motivasi Dalam Belajar
Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi dalam Universitas Negeri Yogyakarta (Tanpa Tahun), motivasi pada siswa dapat tumbuh melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, memberikan kesempatan kepada peserta didik menyalurkan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian peserta didik, seperti gambar, foto, video, dan lain sebagainya.

Menurut Sardiman Universitas Negeri Yogyakarta (Tanpa Tahun) ada beberapa contoh dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah. Beberapa bentuk dan cara motivasi tersebut diantaranya (a) memberi angka; (b) hadiah; (c) saingan atau kompetisi; (d) ego-involvement; (e) memberi ulangan; (f) mengetahui hasil; (g) pujian; (h) hukuman; (i) hasrat untuk belajar; (j) minat; (k) tujuan yang diakui.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi dapat ditumbuhkan melalui cara-cara mengajar yang bervariasi sehingga mampu menumbuhkan hasrat dan menarik perhatian siswa, memberikan ulangan dapat memberi kesempatan kepada peserta didik menyalurkan dan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar, pemberian pujian dan hadiah atas prestasi siswa juga bisa membangkitkan semangat untuk lebih giat belajar sehingga tujuan pendidikan dan keberhasilan pembelajaran dapat tercapai (Universitas Negeri Yogyakarta, Tanpa Tahun).

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Motivasi belajar adalah pendorong bagi perbuatan seseorang atau merupakan motif mengapa seseorang melakukan suatu proses belajar. Motivasi juga  menyangkut mengapa seseorang berbuat demikian dan apa tujuanya sehingga seseorang mau melakukan kegiatan belajar.

Fungsi motivasi sebagai berikut: Pendorong orang untuk berbuat dalam mencapai tujuan. Penentu  arah  perbuatan  yakni  kearah  tujuan  yang  hendak dicapai. Penseleksi  perbuatan  sehingga  perbuatan  orang  yang mempunyai  motivasi  senantiasa  selektif  dan  tetap  terarah kepada tujuan  yang ingin dicapai.

B.     Saran
Bagi penulis selanjutnya disarankan agar menulis lebih baik lagi dan memperbanyak referensi.

 DAFTAR PUSTAKA

Dimyati  dan Mudjiono.2006.  Belajar  dan Perkembangan,  Jakarta: PT  Rineka  Cipta


M. Alisuf Sabri.1996. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

Diposting oleh Unknown di 08.40 Label: Makalah, Pengembangan & Inovasi Kurikulum
BAB   I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
            Sejak Indonesia merdeka kurikulum telah mengalami beberapa kali perubahan secara berturut-turut yaitu pada tahun 1947, tahun 1952, tahun 1964, 1968, 1975, 1984, tahun 1994, dan tahun 2004, serta yang terbaru adalah kurikulum tahun 2006. Pada sasat ini telah dan sedang dilaksanakan uji public kurikulum 2013 sebagai pengembangan dari kurikulum 2006 atau KTSP. Dinamika tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan system politik, social budaya, ekonomi, dan IPTEK dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
            Perubahan atau pengembangan kurikulum menunjukkan bahwa system pendidikan itu dinamis. Jika system pendidikan tidak ingin terjebak dalam stagnasi, semangat perubahan perlu terus dilakukan dan merupakan suatu keniscayaan.
B.       TUJUAN
               Untuk mengetahui bagaimana pengembangan kurikulum 2013 sehingga mahasiswa mampu memahaminya dan sekaligus diharapkan mampu menerapkannya nanti dalam hal kependidikan. Selain itu makalah ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah pengembangan dan inovasi kurikulum.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
1.      Aspek filosofis
Landasan filosofis didasarkan atas landasan filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat serta kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi.

2.      Aspek Yuridis
Pengembangan kurikulum 2013 mengacu pada RPJMN 2014 sektor pendidikan yang memuat tentang perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum. Intruksi presiden nomor 11 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional menegaskan bahwa penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing karakter bangsa.

3.      Aspek konseptual
Secara konseptual kurikulum dikembangkan memperhatikan prinsip relevansi. Prinsip ini merupakan prinsip dasar yang paling dasar dalam sebuah kurikulum. Artinya apabila prinsip ini tidak terpenuhi dalam kurikulum, maka kurikulum tersebut tidak ada lagi artinya dan kurikulum tak lagi bermakna.

Prinsip relevansi mengandung arti bahwa kurikulum harus relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sehingga para siswa mempelajari iptek yang benar-benar terbaru yang memungkinkan mereka memiliki wawasan dan pemikiran yang sejalan dengan perkembangan zaman. Relevan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Relevan dengan karakteristik masyarakat artinya kurikulum harus membekali para siswa dengan sejumlah keterampilan pengetahuan dan sikap yang sesuai dengan kondisi masyarakatnya.

B.     STRATEGI PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN
Kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan capaian pendidikan dilakukan dengan dua strategi utama yaitu peningkatan efektifitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektifitas pembelajaran dicapai melalui tiga tahapan yaitu:

1.      Efektifitas interaksi akan tercipta dengan adanya harmonisasi iklim akademik dan budaya sekolah. Iklim akademik dan budaya sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah dan jajarannya.
2.      Efektifitas pemahaman, dapat dicapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi, asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengomunikasikan. Oleh karena itu penilaian dilakukan berdasarkan proses dan hasil pekerjaan serta kemampuan menilai diri sendiri
3.      Efektifitas penyerapan dapat tercipta ketika adanya kesinambungan pembelajaran secara horizontal dan vertical.

Sinergitas dari ketiga efektifitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan suatu tranformasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan local yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia.

C.     PERMASALAHAN KURIKULUM 2006
1.      Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya matapelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
2.      Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
3.      Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
4.      Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
5.      Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
6.      Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
7.      Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
8.      Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

D.    ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM 2013
Ciri kurikulum 2013 adalah menyangkut empat standar pendidikan, yakni standar kompetensi lulusan, standar proses, standar isi dan standar penilaian. Keempata standar ini dirumuskan dalam 7 elemen sebagai berikut:
1)      Kompetensi lulusan.
2)      Kedudukan mata pelajaran.
3)      Pendekatan.
4)      Struktur kurikulum (mata pelajaran dan alokasi waktu).
5)      Proses pembelajaran penilaian.
6)      Penilaian.
7)      Ekstrakurikuler.

E.     FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
Pendidikan nasional diselenggarakan berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

F.      STRUKTUR KURIKULUM
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam rangka pembelajaran.Struktur kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, beban belajar, dan kalender pendidikan. Mata pelajaran terdiri atas:
-    Mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan
-    Mata  pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan pilihan mereka.

Kedua kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama dikembangkan dalam struktur kurikulum pendidikan menengah (SMA dan SMK) sementara itu mengingat usia dan perkembangan psikologis peserta didik usia 7 – 15 tahun maka mata pelajaran pilihan belum diberikan untuk peserta didik SD dan SMP.

1.      Struktur Kurikulum SD
Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Beban belajar di SD Tahun I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk Tahun IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. Jam belajar SD adalah 40 menit.
Struktur Kurikulum SD adalah sebagai berikut:

MATA  PELAJARAN
ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU
I
II
III
IV
V
VI
Kelompok A


1.
Pendidikan Agama
4
4
4
4
4
4
2.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
5
6
6
6
6
6
3.
Bahasa Indonesia
8
8
10
10
10
10
4.
Matematika
5
6
6
6
6
6
Kelompok B
1.
Seni Budaya dan Keterampilan
(termasuk muatan lokal)
4
4
4
6
6
6
2.
Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan
(termasuk muatan lokal)
4
4
4
4
4
4
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu
30
32
34
36
36
36

= Pembelajaran  Tematik Terintegrasi
 
Kelompok A adalah mata pelajaran yang memberikan orientasi kompetensi lebih kepada aspek intelektual dan afektif sedangkan kelompok B adalah mata pelajaran yang lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomotor.

Integrasi konten IPA dan IPS adalah berdasarkan makna mata pelajaran sebagai organisasi konten dan bukan sebagai sumber dari konten. Konten IPA dan IPS diintegrasikan ke dalam mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia dan Matematika yang harus ada berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam 2 (dua) hal, yaitu integrasi sikap, kemampuan/keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran serta pengintegrasian berbagai konsep dasar yang berkaitan.

Tema memberikan makna kepada konsep dasar tersebut sehingga peserta didik tidak mempelajari konsep dasar tanpa terkait dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, pembelajaran memberikan makna nyata kepada peserta didik.

Tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia. Keduanya adalah pemberi makna yang substansial terhadap bahasa, PPKn, matematika dan seni budaya karena keduanya adalah lingkungan nyata dimana peserta didik dan masyarakat hidup. Disinilah kemampuan dasar/KD dari IPA dan IPS yang diorganisasikan ke mata pelajaran lain yang memiliki peran penting sebagai pengikat dan pengembang KD mata pelajaran lainnya.

Berdasarkan sudut pandang psikologis, tingkat perkembangan peserta didik tidak cukup abstrak untuk memahami konten mata pelajaran secara terpisah-pisah. Pandangan psikologi perkembangan dan Gestalt memberi dasar yang kuat untuk integrasi KD yang diorganisasikan dalam pembelajaran tematik. Dari sudut pandang transdisciplinarity maka pengotakan konten kurikulum secara terpisah ketat tidak memberikan keuntungan bagi kemampuan berpikir selanjutnya.

2.      Struktur Kurikulum SMP
Beban belajar di SMP untuk Tahun VII, VIII, dan IX masing-masing 38 jam per minggu. Jam belajar SMP adalah 40 menit.
Struktur Kurikulum SMP adalah sebagai berikut:

MATA PELAJARAN
ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU
VII
VIII
IX
Kelompok A



1.
Pendidikan Agama
3
3
3
2.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
3
3
3
3.
Bahasa Indonesia
6
6
6
4.
Matematika
5
5
5
5.
Ilmu Pengetahuan Alam
5
5
5
6.
Ilmu Pengetahuan Sosial
4
4
4
7.
Bahasa Inggris
4
4
4
Kelompok B
1.
Seni Budaya (termasuk muatan lokal)
3
3
3
2.
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan
(termasuk muatan lokal)
3
3
3
3.
Prakarya
(termasuk muatan lokal)
2
2
2
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu
38
38
38

Kelompok A adalah mata pelajaran yang memberikan orientasi kompetensi lebih kepada aspek intelektual dan afektif sedangkan kelompok B adalah mata pelajaran yang lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomotor.

3.      Struktur Kurikulum SMA
Untuk menerapkan konsep kesamaan antara SMA dan SMK maka dikembangkan kurikulum Pendidikan Menengah yang terdiri atas Kelompok mata pelajaran Wajib dan Mata pelajaran Pilihan. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (Sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 18 jam per minggu. Konten kurikulum (Kompetensi Inti/KI dan KD) dan kemasan konten serta label konten (mata pelajaran) untuk mata pelajaran wajib bagi SMA dan SMK adalah sama. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya.

Mata pelajaran pilihan terdiri atas pilihan akademik (SMA) serta pilihan akademik dan vokasional (SMK). Mata pelajaran pilihan ini memberikan corak kepada fungsi satuan pendidikan dan di dalamnya terdapat pilihan sesuai dengan minat peserta didik. Beban belajar di SMA untuk Tahun X, XI, dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. Satu jam belajar adalah 45 menit.
Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib sebagai berikut.


MATA PELAJARAN
ALOKASI WAKTU BELAJAR
PER MINGGU
X
XI
XII
Kelompok  Wajib
1.
Pendidikan Agama
3
3
3
2.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
2
2
2
3.
Bahasa Indonesia
4
4
4
4.
Matematika
4
4
4
5.
Sejarah Indonesia
2
2
2
6.
Bahasa Inggris
2
2
2
7.
Seni Budaya
2
2
2
8.
Prakarya
2
2
2
9.
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan
2
2
2
Jumlah  Jam Pelajaran Kelompok  Wajib per minggu
23
23
23
Kelompok Peminatan
Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA)
20
20
20
Mata Pelajaran Peminatan Akademik dan Vokasi (SMK)
28
28
28

Kompetensi  Dasar mata pelajaran wajib memberikan kemampuan dasar yang sama bagi tamatan Pendidikan Menengah antara mereka yang belajar di SMA dan SMK.

Bagi mereka yang memilih SMA tersedia pilihan kelompok peminatan (sebagai ganti jurusan) dan pilihan antar kelompok peminatan dan bebas. Nama Kelompok Peminatan digunakan karena memiliki keterbukaan untuk belajar di luar kelompok tersebut sedangkan nama jurusan memiliki konotasi terbatas pada apa yang tersedia pada jurusan tersebut dan tidak boleh mengambil mata pelajaran di luar jurusan.

Struktur Kelompok Peminatan Akademik (SMA) memberikan keleluasaan bagi peserta didik sebagai subjek tetapi juga berdasarkan pandangan bahwa semua disiplin ilmu adalah sama dalam kedudukannya. Nama kelompok minat diubah dari IPA, IPS dan Bahasa menjadi Matematika dan Sains, Sosial, dan Bahasa. Nama-nama ini tidak diartikan sebagai nama kelompok disiplin ilmu karena adanya berbagai pertentangan fisolosfis pengelompokan disiplin ilmu. Berdasarkan filosofi rekonstruksi sosial maka nama organisasi kurikulum tidak terikat pada nama disiplin ilmu.
Terlampir di bawah adalah mata pelajaran peminatan dan mata pelajaran pilihan (pendalaman minat dan lintas minat).

MATA PELAJARAN
Kelas
X
XI
XII
Kelompok Wajib
23
23
23
Peminatan Matematika dan Sains



I
1
Matematika
3
4
4
2
Biologi
3
4
4
3
Fisika
3
4
4
4
Kimia
3
4
4
Peminatan Sosial



II
1
Geografi
3
4
4
2
Sejarah
3
4
4
3
Sosiologi dan Antropologi
3
4
4
4
Ekonomi
3
4
4
Peminatan Bahasa



III
1
Bahasa dan Sastra Indonesia
3
4
4
2
Bahasa dan Sastra Inggris
3
4
4
3
Bahasa dan Sastra Asing lainnya
3
4
4
4
Sosiologi dan Antropologi
3
4
4
Mata Pelajaran Pilihan





Pilihan Pendalaman Minat atau Lintas Minat
6
4
4
Jumlah Jam Pelajaran Yang Tersedia
73
75
75
Jumlah Jam Pelajaran Yang harus Ditempuh
41
43
43





G.    STRATEGI NIMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
Memiliki tiga tahap, yaitu: merancang, mengimplemtasikan dan mengevaluasi. Adapun factor-faktoryang menentukan dan mendukung keberhasilan implementasi kurikulum dalam meningkatkan pembelajaran untuk menghasilkan peserta didik sebagai lulusan yang kompeten sebagai berikut:

1.      Kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan kurikulum dan buku teks.
2.      Ketersediaan buku sebagai sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk kurikulum.
3.      Penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan
4.      Penguatan manajemen dan budaya sekolah.

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Perubahan atau pengembangan kurikulum menunjukkan bahwa system pendidikan itu dinamis. Jika system pendidikan tidak ingin terjebak dalam stagnasi, semangat perubahan perlu terus dilakukan dan merupakan suatu keniscayaan. Prinsip pengembangan kurikulum harus memperhatikan aspek filosofis, yuridis dan konseptual.

Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://google.com
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Labels

  • Artikel Makalah (9)
  • Filsafat Pendidikan Islam (1)
  • hadist tarbawy (1)
  • Komputer (1)
  • Makalah (13)
  • manajemen pendidikan (1)
  • Pengembangan & Inovasi Kurikulum (1)
  • Perbandingan Mazhab (1)
  • Perencanaan Pembelajaran PAI (1)
  • Picture (1)
  • PPMDI (1)
  • Psikologi Pembelajaran & Perkembangan (1)
  • Puisi (7)
  • tafsir tarbawy (2)
  • Teknologi Pendidikan (1)
  • Tips & Trik (1)
  • Ushul Fiqh (1)
  • Video (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  November (1)
      • MANUSIA DAN KEBUTUHAN DOKTRIN AGAMA*
  • ►  2016 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2015 (21)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (14)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (9)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (2)
    • ►  Desember (2)

Followers

Pages

  • Beranda
  • Tugas-tugasku
  • News
  • Laguku
Wawan Firmana. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kandungan QS. Ar Rahman Ayat 33 tentang Pendidikan (Teknologi)
    BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Memperhatikan ralita keterpurukan  kaum muslimin dewasa ini, kami mencoba mengupas ayat ilmu pe...
  • MADZHAB SHAHABI, SYAR’U MAN QABLANA, & SADD AL-ZARI’AH
    BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Berdasarkan telah ditetapkan bahwa dalil syar’i yang dijadikan dasar pengambilan hukum yang b...
  • Domain Teknologi Pendidikan
    1. Pengertian Domain atau kawasan teknologi pendidikan Secara etimologis, domain berarti kawasan, wilayah/daerah kekuasaan atau bidang k...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
    BAB   I PENDAHULUAN A.       LATAR BELAKANG             Sejak Indonesia merdeka kurikulum telah mengalami beberapa kali perubahan sec...
  • “AYAT-AYAT TENTANG METODE PENDIDIKAN YANG TEPAT”
    BAB I PENDAHULUAN A.     LATAR BELAKANG Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari Al Qur’an yang meru...
  • MOTIVASI DALAM BELAJAR
    BAB I P ENDAHULUAN A.     Latar Belakang Dewasa ini, sudah tak dapat dielakkan lagi bahwa minat untuk belajar seseorang akan mudah ...
  • Fiqh Wudhu dan Sholat
    A.    Latar Belakang Shalat adalah amalan yang pertama akan dihisab pada hari kiamat. Apabila baik shalatnya, maka dianggaplah baik ke...
  • Sejarah Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Mamluk
    Oleh: Wawan Firmana BAB I PENDAHULUAN A.    Latar Belakang Dalam sejarah peradaban Islam setelah masa pemerintahan khulafour-rasi...
  • STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING, PROBLEM BASED LEARNING & BERORIENTASI AKTIVITAS SISWA
    BAB I PENDAHULUAN A.     LATAR BELAKANG Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa: “Pendidik...
  • PEMIKIRAN KH. AHMAD DAHLAN TENTANG SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
    BAB I PENDAHULUAN   A.     Latar Belakang K.H. Ahmad Dahlan merupakan salah satu icon terbesar dan tersohor dari ribuan tokoh intelek...

leader of achievement

Unknown
Lihat profil lengkapku

Labels

  • Artikel Makalah (9)
  • Filsafat Pendidikan Islam (1)
  • hadist tarbawy (1)
  • Komputer (1)
  • Makalah (13)
  • manajemen pendidikan (1)
  • Pengembangan & Inovasi Kurikulum (1)
  • Perbandingan Mazhab (1)
  • Perencanaan Pembelajaran PAI (1)
  • Picture (1)
  • PPMDI (1)
  • Psikologi Pembelajaran & Perkembangan (1)
  • Puisi (7)
  • tafsir tarbawy (2)
  • Teknologi Pendidikan (1)
  • Tips & Trik (1)
  • Ushul Fiqh (1)
  • Video (2)

About

SEBUAH BLOG UNTUK BERKARYA DAN BERKREASI SERTA BERBAGI. PENYUSUN, PENYUNTING, PENULIS ADALAH SEORANG MAHASISWA SEMESTER VI FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM STAI BINAMADANI.

Arsip Blog

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  November (1)
      • MANUSIA DAN KEBUTUHAN DOKTRIN AGAMA*
  • ►  2016 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2015 (21)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (14)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (9)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (2)
    • ►  Desember (2)

Yahoo.com

www.yahoo.com

Blogroll

STAI BINAMADANI

KAMPUS PEDULI UMAT

PATANG MENYERAH

TERUS BERUSAHA
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com