skip to main | skip to sidebar

GRABALONG

dalam bahasa samawa, yaitu Gra = cakap, tampan/cantik & Balong = bagus/baik, indah. jadi Grabalong artinya keindahan yang sempurna atau sejati.

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Rabu, 20 Mei 2015

PENGEMBANGAN ALAT EVALUASI

Diposting oleh Unknown di 17.39 Label: Makalah, Perencanaan Pembelajaran PAI
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Kalau kita perhatikan kenyataan dalam dunia pendidikan akan kita ketahui, bahwa dalam setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama suatu periode pendidikan orang selalu mengadakan evaluasi: artinya pada waktu-waktu tertentu selama suatu periode pendidikan tadi selalu mengadakan penelitian terhadap hasil yang telah dicapai baik oleh pihak pendidik maupun oleh pihak terdidik hingga waktu tertentu.

Seperti telah disebutkan diatas gejala macam ini terdapat dalam setiap pendidikan atau bentuk pendidikan. Baik pendidikan itu terjadi dalam lingkungan rumah tangga, maupun pendidikan itu terjadi dalam lingkungan sekolah ataupun lingkungan pendidikan yang lain, selalu akan kita jumpai gejala ini ialah bahwa orang mengadakan penilaian terhadap hasil usaha yang telah dilakukannya dalam jangka waktu tertentu.

Oleh karena itu kami mencoba menguraikan bagaimana pengembangan alat evaluasi dalam pendidikan.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Tes, evaluasi dan alat evaluasi?
2.      Apa fungsi dan tujuan pengembangan alat-alat evaluasi hasil belajar?
3.      Bagaimana petunjuk pengembangan evaluasi serta bagaimana jenis-jenis tes sebagai alat evaluasi?
  1. Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari tes, evaluasi dan alat evaluasi pendidikan.
2.      Untuk mengetahui fungsi dan tujuan dari pengembangan alat-alat evaluasi hasil belajar.
3.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan alat serta jenis-jenis alat evaluasi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

  1. Tes dan Tujuan Pengembangan Alat Evaluasi
1.      Pengertian Tes
Test berasal dari bahasa Perancis yaitu “testum” yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia dari material lain seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Tes yang berarti ujian atau percobaan.[1] Kemudian diadopsi dalam psikologi dan pendidikan untuk menjelaskan sebuah   instrumen yang dikembangkan untuk dapat melihat dan mengukur dan menemukan peserta Tes   yang memenuhi kriteria tertentu.[2]

Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa test adalah cara yang dapat digunakan atau prosedur yang dapat ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian yang dapat berbetuk pemberian tugas, atau serangkaian tugas sehingga dapat dihasilkan nilai yang dapat melambangkan prestasi.

2.      Pengertian Evaluasi
Evaluasi, dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Adapun dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977) : Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.[3] 

3.      Pengertian Alat Evaluasi
Alat Evaluasi berarti keseluruhan alat yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan evaluasi, dalam hal ini adalah berkaitan dengan pendidikan berupa tes dan non tes. Jadi pengembangan alat evaluasi adalah bagaimana cara mengembangkan alat-alat evaluasi untuk tujuan memajukan serta meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri.

4.      Fungsi dan Tujuan pengembangan alat evaluasi
Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses memiliki beberapa fungsi pokok sebagai berikut :
a.       Mengukur kemajuan
b.      Menunjang penyusunan rencana
c.       Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali
d.      Memperoleh informasi tentang hasil – hasil yang telah dicapai dalam rangka pelaksanaan program pendidikan
e.       Mengetahui relevansi antara program pendidikan yang telah dirumuskan dengan tujuan yang hendak dicapai

Evaluasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan, akan membuka peluang bagi evaluator untuk membuat perkiraan (estimasi), apakah tujuan yang telah dirumuskan akan dapat dicapai pada waktu yang telah ditentukan ataukah tidak.

Tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut :
a.       Menghimpun bahan – bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan / kemajuan peserta didik.
b.      Mengetahui tingkat efektivitas metode pengajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran.
c.       Merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
d.      Mencari dan menemukan faktor – faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik.

  1. Alat-alat Evaluasi Hasil Belajar
Alat – alat yang digunakan dalam rangka melakukan evaluasi hasil belajar mencakup teknik tes dan teknis nontes.

1.      Teknik Tes
Dalam evaluasi pendidikan, yang dimaksud dengan tes adalah cara/prosedur dalam rangka pengukuran dan penilaian yang berupa pemberian tugas sehingga dihasilkan nilai yang menunjukkan prestasi siswa. Secara umum, fungsi tes adalah mengukur tingkat perkembangan / kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik, dan mengukur keberhasilan program pengajaran.

a.       Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan / kemajuan peserta didik.
1)      Tes seleksi. Dilaksanakan dalam rangka penerimaan siswa baru.
2)      Tes awal (pre-test). Dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana materi / bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik.
3)      Tes akhir (post-test). Dilaksanakan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran sudah dapat dikuasai oleh peserta didik.
4)      Tes diagnostic. Dilaksanakan untuk menentukan secara tepat jenis kesukaran yang dihadapi peserta didik.
5)      Tes formatif (ulangan harian). Dilaksanakan pada setiap kali selesai satuan pelajaran / subpokok bahasan.
6)      Tes sumatif. Pada umumnya disusun atas dasar materi pelajaran yang telah diberikan selama satu semester

b.      Penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap
1)      Tes intelegensi (intellegency test). Dilaksanakan untuk menentukan tingkat kecerdasan.
2)      Tes kemampuan (aptitude test). Dilaksanakan untuk mengungkap kemampuan dasar / bakat.
3)      Tes sikap (attitude test). Dilaksanakan untuk mengungkap kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu respon / obyek tertentu .
4)      Tes kepribadian (personality test). Dilaksanakan untuk menentukan ciri khas yang bersifat lahiriah seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi, dll.
5)      Tes hasil belajar / tes pencapaian (achievement test). Dilaksanakan untuk menentukan tingkat prestasi belajar.

c.       Penggolongan lain – lain
1)      Tes individu
2)      Tes kelompok
3)      Tes tertulis
4)      Tes lisan.

2.      Teknik Nontes
Dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, malainkan dengan melakukan pengamatan (observasi), wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa / meneliti dokumen (documentary analysis).

a.       Pengamatan (Observation).
Observasi adalah cara menghimpun bahan – bahan keterangan/data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis. Observasi dapat mengukur hasil dan proses belajar, misalnya tingkah laku peserta didik.

b.      Wawancara (Interview).
Evaluator melakukan wawancara dengan pihak – pihak yang terkait, misalnya wawancara dengan peserta didik, orang tua / wali murid, dll.

c.       Angket (Questionnaire).
Tujuan penggunaan angket / kuesioner dalam proses pembelajaran adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.

d.      Pemeriksaan dokumen (Documentary analysis).
Memuat informasi mengenai riwayat hidup peserta didik dan orang tua peserta didik.

  1. Petunjuk Pengembangan Alat Evaluasi
1.      Beberapa factor yang harus di perhatikan dalam mengembangkan tes alat evaluasi:
a.       Menentukan tujuan penilaian
Tujuan penilaian ini harus dirumuskan secara jelas dan tegas serta ditentukan sejak awal, karena menjadi dasar untuk menentukan arah, ruang lingkup materi, jenis/model, dan karakter alat penilaian. Dalam penilaian hasil belajar, ada emapat kemungkinan tujuan penelitian, yaitu untuk memperbaiki kinerja tau proses pembelajaran (formatif), untuk menentukan keberhasilan peserta didik (sumatif), untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostik), atau untuk menempatkan posisi peseta didik sesuai dengan kemampuannya (penempatan).

b.      Mengindentifikasi hasil belajar
Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Peserta didik dianggap kompeten apabila dia memiliki pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai untuk melakukan sesuatu setelah mengikuti proses pembelajaran. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, semua jenis kompetensi dan hasil belajar sudah dirumuskan oleh tim pengembang kurikulum, seperti standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator. Guru tinggal mengidentifikasi kompetensi mana yang akan dinilai.

c.       Menyusun Kisi-kisi
Menyusun kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betul-betul representatif dan relevan dengan materi pelajaran yang sudah diberikan oleh guru kepada peserta didik. Jika materi penilaian tidak relevan dengan materi pelajaran yang telah diberikan, maka akan berakibat hasil penilaian itu kurang baik. Begitu juga jika materi penilaian terlalu banyak dibandingkan dengan materi pelajaran, maka akan berakibat sama. Untuk melihat apakah materi penilaian relevan dengan materi pelajaran atau apakah penilaian terlalu banyak atau kurang, guru harus menyusun kisi-kisi.

d.      Mengembangkan draf intrumen
Mengembangkan draf instrumen penilaian merupakan salah satu langkah penting dalam prosedur penilaian. Instrumen penilaian dapat disusun dalam bentuk tes maupun nontes, dalam bentuk tes, berarti guru harus membuat soal. Penilaian sosial adalah penjabaran indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Setiap pertanyaan harus jelas dan terfokus serta menggunakan bahasa yang efektif, baik bentuk pertanyaan maupun bentuk jawabannya. Kualitas butir soal akan menentukan kualitas tes secara keseluruhan. Setelah semua soal ditulis, sebaiknya soal tersebut dibaca lagi, jika perlu didiskusikan kembali dengan tim penelaah soal, baik dari ahli bahasa, ahli bidang studi, ahli kurikulum, dan ahli evaluasi.

e.       Uji coba dan analisis soal
Jika semua soal sudah disusun dengan baik, maka perlu di uji cobakan terlebih dahulu dilapangan. Tujuannya untuk mengetahui soal-soal mana yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan dibuang sama sekali, serta soal-soal mana yang baik untuk dipergunakan selanjutnya. Soal yang baik adalah soal yang sudah mengalami beberapa kali uji coba dan revisi, yang didasarkan atas analisis empiris dan rasional. Analisis empiris dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan setiap soal yang diginakan.

f.       Revisi dan merakit soal (instrument baru)
Setelah soal diuji coba dan dianalisis, kemudian direvisi sesuai dengan proporsi tingkat kesukaran soal dan daya pembeda. Dengan demikian, ada soal yang masih dapat diperbaiki dari segi bahasa, ada juga soal yang harus direvisi total, baik yang menyangkut pokok soal (stem) maupun alternatif jawaban (option), bahkan ada soal yang harus dibuang atau disisihkan. Berdaarkan hasil revisi soal ini, barulah dilakukan perkaitan soal menjadi suatu instrumen yang terpadu. Untuk itu, semua hal yang dapat mempengaruhi validitas skor tes, seperti nomor urut soal, pengelompokan bentuk soal,penataan soal, dan sebagainya haruslah diperhatikan.

2.    Prinsip dan Prosedur Penilaian
Mengingat pentingnya penilaian dalam menentukan kualitas pendidikan, maka upaya merencanakan dan melaksanakan penilaian hendaknya memperhatikan beberapa prinsip dan prosedur penilaian sebagai berikut:

a.     Dalam menilai hasil belajar, hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian.
b.    Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses belajra-mengajar. Artinya, penilaian senantiasa dilaksanakan pada tiap saat proses belajar-mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan.
c.     Agar diperoleh hasil belajar yang obyektif dalam pengertian menggambarkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif (mencakup berbagai ranah, sepesrti kognitif, afektif, dan psikomotorik).
d.      Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siapapun. 

C. Kriteria Tes
Ciri – ciri tes hasil belajar yang baik adalah sebagai berikut[4] :

a.       Bersifat valid. Tes hasil belajar secara tepat dan benar dapat mengukur hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik.
b.      Memiliki reliabilitas. Menunjukkan hasil yang sama dan stabil.
c.       Bersifat obyektif. Materi tes bersumber dari materi yang telah diajarkan.
d.      Bersifat praktis. Tes hasil belajar dapat dilaksanakan dengan mudah.


  1. Jenis-jenis Tes
Pada jenis-jenis tes, ada lima jenis atau cara pembagian yaitu:
1.      Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan.
Seperti tes formatif, sumatif, tes penempatan, dan tes diagnostic.
2.      Jenis tes berdasarkan waktu penyelenggaraan. Seperti pra test, tes akhir, power test dan speed test.
3.      Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan. Seperti tes tertulis, tes lisan, dan perbuatan.
4.      Pembagian jenis tes berdasarkan cara penyusunan. Seperti tes kelompok dan tes perseorangan.
5.      Pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawaban. Seperti tes non objektif/essay, tes objektif (betul-salah, pilihan ganda, tes menjodohkan dan soal melengkapi dan singkat).

BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai pengembangan alat evaluasi diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa pengembangan alat evaluasi sangat dibutuhkan dalam pendidikan guna mengetahui kemajuan peserta didik dan untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode pendidikan yang digunakan oleh pendidik. Karena tanpa adanya pengembangan maka alat evaluasi dikhawatirkan tidak sesuai lagi dengan kemajuan di bidang pendidikan sekarang ini.

Adapun dalam pengembangannya lebih ditekankan dalam penggunaan alat-alat evaluasi hasil belajar seperti tehnik tes dan non tes dengan tetap memerhatikan petunjuk-petunjuk atau kriteria yang baik dalam pengembangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Sudajana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
http://wadhyduno.blogspot.com/2012/12/pengembangan-tes-evaluasi-hasil-belajar.html diakses tgl 1 mei 2015 pukul 13:00
http://ikhwan-perbaungan.blogspot.com/2013/05/macam-macam-tes-evaluasi-hasil-belajar.html diakses tgl 1 mei 2015 pukul 13:03
http://eilha-dhiansyah.blogspot.com/2013/06/prosedur-pengembangan-evaluasi.html diakses tgl 1 mei 2015 pukul 13:04







[1] http://ikhwan-perbaungan.blogspot.com/2013/05/macam-macam-tes-evaluasi-hasil-belajar.html
[2] http://wadhyduno.blogspot.com/2012/12/pengembangan-tes-evaluasi-hasil-belajar.html
[3] http://xpresiteacher.blogspot.com/2010/05/pengembangan-alat-evaluasi.html
[4] http://xpresiteacher.blogspot.com/2010/05/pengembangan-alat-evaluasi.html
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

PENANAMAN RASA KEPEDULIAN SOSIAL

Diposting oleh Unknown di 17.33 Label: hadist tarbawy, Makalah
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah swt. yang diciptakan sebagai makhluk yang bersosial, yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Oleh karna itu selain kita disuruh berubudiyah kepada Allah, juga disuruh untuk menjaga hubungan dan hak antar sesama muslim.

Kepedulian sosial termasuk dalam ibadah jika dilaksanakan dengan tujuan kebaikan. Kepedulian social dapat diartikan sebagai sikap memperhatikan urusan orang lain (sesama anggota masyarakat). Kepedulian social yang dimaksud disini bukanlah untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih pada membantu menyeleseikan permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan perdamaian dan kebaikan.

Dalam pandangan Islam seseorang tidak akan dikatakan sempurna imannya sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Sebenarnya pandangan Islam yang demikian sudah benar, tetapi kenyataannya sekarang masih banyak orang yang kurang peduli terhadap permasalahan sosial ini sehingga tatanan sosial menjadi kurang seimbang yang mengakibatkan banyak terjadi kekacauan seperti pencurian, perampokan, dll.

Pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai kepedulian sosial dalam perspektif hadits Rasulullah SAW.

  1. Tujuan
1.      Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang hadis-hadis yang berhubungan dengan anjuran penanaman rasa kepedulian sosial.
2.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Hadist Tasrbawy yang nantinya akan menjadi sumber persentasi dalam kelas di Kampus STAI Binamadani.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kepedulian Sosial
Kepedulian sosial berarti sikap memperhatikan atau menghiraukan urusan orang lain (sesama anggota masyarakat). Kepedulian sosial yang dimaksud bukanlah untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih pada membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan kebaikan dan perdamaian.

Kepedulian adalah sikap yang diajarkan oleh Rasulullah. Banyak hadits yang menunjukkan bahwa kepedulian sosial menentukan keimanan seseoranag. Orang beriman tidak hanya baik di mata Tuhan, tapi juga baik di mata masyarakat. Kebaikan tidak hanya diukur dengan kuantitas dan kualitas ritual formal, melainkan seberapa besar amal perbuatan seseorang bermanfaat dan membawa maslahat bagi manusia. Sebagaimana hadits : “Manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.”

B.     Hadits-hadits  tentang Kepedulian Sosial dari Hadits Arbain Nawawy
  1. Hadits ketiga belas
a.       Teks Hadits


b.      Terjemah Hadits :
“Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia suka untuk saudaranya apa yang dia suka untuk dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

c.       Kandungan Hadist :
1)      Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri.
2)      Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman.
3)      Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
4)      Anjuran untuk menyatukan hati.

  1. Hadits kedua puluh enam
a.       Teks Hadist


b.      Terjemah hadits :

“Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda : Setiap anggota tubuh manusia dapat melakukan sedekah, setiap hari dimana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah sedekah, engkau menolong seseorang yang berkendaraan lalu engkau bantu dia untuk naik kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah sedekah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

c.       Kandungan Hadist :
1)      Bersyukur kepada Allah ta’ala setiap hari atas kesehatan anggota badan.
2)      Allah telah menjadikan -sebagai rasa syukur terhadap ni’mat-Nya- setiap anggota badan untuk menolong hamba-hamba Allah ta’ala, bersedekah kepada mereka dengan menggunakannya sesuai kemaslahatannya.
3)      Temasuk sedekah adalah: Menahan tangan dan lisan untuk tidak menyakiti orang lain, justru seharusnya digunakan untuk menunaikan hak-hak setiap muslim.
4)      Jasad harus dikeluarkan zakatnya sebagaimana harta ada zakatnya. Zakat badan adalah melakukan perbuatan baik, bersedekah dan pintu-pintunya banyak.
5)      Anjuran untuk mendamaikan kedua belah pihak, tolong-menolong, mengucapkan kalimat yang baik, berjalan menuju shalat dan menyingkirkan penghalang dari jalan.
6)      Anjuran untuk membersihkan sarana-sarana umum.
7)      Anjuran untuk melakukan keadilan, karena dengan keadilanlah ditegakkan langit dan bumi.


  1. Hadits Ketiga Puluh Enam
a.       Teks Hadits

b.      Terjemah hadits :
“Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di Hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitann niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.“ (Muttafaq alaih).


c.       Kandungan Hadist:

1)      Siapa yang membantu seorang muslim dalam menyelesaikan kesulitannya, maka akan dia dapatkan pada hari kiamat sebagai tabungannya yang akan memudahkan kesulitannya di hari yang sangat sulit tersebut.
2)      Sesungguhnya pembalasan disisi Allah ta’ala sesuai dengan jenis perbuatannya.
3)      Berbuat baik kepada makhluk merupan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala.
4)      Meluruskan niat dalam rangka mencari ilmu dan ikhlas di dalamnya agar tidak menggugurkan pahala sehingga amal dan usahanya sia-sia.
5)      Memohon pertolongan kepada Alla ta’ala dan kemudahan dari-Nya, karena ketaatan tidak akan terlaksana kecuali karena kemudahan dan kasih sayang-Nya.
6)      Selalu membaca Al Quran, memahaminya dan mengamalkannya.
7)      Keutamaan duduk di rumah Allah untuk mengkaji ilmu.


BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Dari tiga hadits diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu indikasinya adalah ajaran-ajaran Islam yang menanamkan rasa kepedulian sosial yang sangat tinggi terhadap sesama. Kepedulian sosial berarti sikap memperhatikan atau menghiraukan urusan orang lain (sesama anggota masyarakat). Karena manusia adalah  makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian atau makhluk yang saling ketergantungan dengan yang lain, selain memiliki hubungan dengan penciptanya, juga memiliki hubungan dengan sesama makhluk, sehingga dalam agama Islam di ajarkan bagaimana cara untuk menjaga hubungan tersebut, kita dianjurkan untuk saling kasih mengasihi, sayang menyayangi.

Kepedulian adalah sikap yang diajarkan oleh Rasulullah. Banyak hadits yang menunjukkan bahwa kepedulian sosial menentukan keimanan seseoranag. Orang beriman tidak hanya baik di mata Tuhan, tapi juga baik di mata masyarakat. Kebaikan tidak hanya diukur dengan kuantitas dan kualitas ritual formal, melainkan seberapa besar amal perbuatan seseorang bermanfaat dan membawa maslahat bagi manusia. Sebagaimana hadits : “Manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.”


DAFTAR PUSATAKA

Islamhouse.com/Hadits Arba’in Nawawiyah
https://books.google.co.id/books?id=KKdldOK_APkC&pg=PA119&lpg=PA119&dq=hadits+tentang+kepedulian+sosial&source=bl&ots=RKBgSBHmmc&sig=eezxHGThv6efQSdkIbzd4iCTxMw&hl=id&sa=X&ei=XrQ3VcKcMIyXuAT36oGABQ&ved=0CDIQ6AEwAw#v=onepage&q=hadits%20tentang%20kepedulian%20sosial&f=false
http://kulinerakal.blogspot.com/2011/07/hadits-hadits-kepedulian-sosial.html

http://sepisapi.blogspot.com/2013/04/makalah-hadits-tentang-kepedulian-sosial.html
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kandungan QS. Ar Rahman Ayat 33 tentang Pendidikan (Teknologi)

Diposting oleh Unknown di 17.21 Label: Makalah, tafsir tarbawy


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar belakang
Memperhatikan ralita keterpurukan  kaum muslimin dewasa ini, kami mencoba mengupas ayat ilmu pengetahuan, dengan harapan makalah ini sedikit banyak dapat menyadarkan kelengahan kita selama ini, mengangkat harkat dan martabat di sisi Allah dan makluk lain dan mengembalikan kita ke posisi semula sebagai “khalifah allah” di muka bumi.

  1. Rumusan masalah
1.      Apa teks dan terjemah Qs. Ar-Rahman ayat 33?
2.      Bagaimana asbabun nuzul dan tafsir Qs. Ar-Rahman ayat 33?
3.      Apa kandungan pendidikan Qs. Ar-Rahman ayat 33?

  1. Tujuan
1.      Mengetahui teks dan terjemah Qs. Ar-Rahman ayat 33.
2.      Mengetahui bagaimana asbabun nuzul dan tafsir Qs. Ar-Rahman ayat 33.
3.      Untuk mengetahui kandungan pendidikan Qs. Ar-Rahman ayat 33.

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Teks dan terjemah Quran surat Ar Rahman ayat 33




“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”[1]

  1. Mufrodat
Arti
Lafadz
Arti
Lafadz
penjuru
أقطار
Golongan
معشر
Dengan kekuatan
بسلطان
Kamu sekalian mampu
استطعتم
Kamu sekalian menembus
تنفذوا

فَانْفُذُوا
:
(maka lintasilah) Tembuslah ke penjuru langit dan bumi dan lepaskan dirimu, dikatakan tembusnya sesuatu  dari sesuatu yang lain, ketika sesuatu itu dilepaskan seperti melepaskan anak panah.
لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
:
(Dan kamu tidak mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan) mereka tidak mampu untuk menembusnya kecuali dengan kekuatan dan mereka tidak kuasa.

  1. Asbabun nuzul
Menurut Jumhur Sahabat dan Tabiin bahwa surat Ar-Rahman diturunkan di Makkah tetapi terdapat Jamaah (yang mengambil periwayatan) dari Ibnu Abbas bahwa surat Ar-Rahman diturunkan di Madinah. Sebab-sebab diturunkannya atau Asbab Nuzul Surat Ar-Rahman yaitu ketika orang-orang kafir bertanya siapakah Ar-Rahman itu? Yang terdapat dalam surat Al-Furqan: 60: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab:"Siapakah yang Maha Penyayang itu? apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (QS: Al-Furqan: 60)

  1. Tafsir
(Hai semua jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus) melintasi (penjuru) atau kawasan-kawasan (langit dan bumi, maka lintasilah) perintah di sini mengandung makna yang menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk melakukan hal tersebut (kalian tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan) dan kalian tidak akan mempunyai kekuatan untuk itu.

Ayat yang lalu mengancam manusia dan jin bahwa Allah akan berkonsentrasi untuk melakukan perhitungan terhadap amal-amal mereka. Ayat ini menegaskan bahwa mereka tidak dapat menghindari dari pertanggungjawaban serta akibat-akibatnya. Allah menantang mereka dengan menyatakan : Hai kelompok jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus keluar menuju penjuru-penjuru langit dan bumi guna menghindari pertanggungjawaban atau siksa yang menimpa kamu itu maka tembuslah keluar. Tetapi sekali-kali kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan, sedangkan kamu tidak memiliki kekuatan.  Maka nikmat Tuhan kamu berdua yang manakah yang kamu berdua ingkari?

Thahir ibn Asyur menegaskan bahwa ayat ini bukanlah merupakan ucapan yang diucapkan kepada mereka dalam kehidupan dunia ini. Maksudnya ayat ini akan diucapkan kelak di hari Kemudian sebagaimana dipahami dari konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Penulis  menambahkan bahwa memang sementara ulama terdahulu menyatakan itu diucapkan kepada mereka dalam kehidupan dunia ini, tetapi maksudnya dalam arti perintah untuk menghindar dari maut-kalau mereka mampu.

Ayat ini dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti isyarat ilmiah Al-Qur’an tentang kemampuan manusia keluar angkasa. Pendapat ini kurang di setujui oleh penulis . Karena kalaupun kini manusia telah dapat sampai ke bulan atau planet yang lain, maka itu bukan berrarti bahwa manusia telah sanggup keluar menembus penjuru-penjuru angkasa langit dan bumi. Walau tanpa memperhatikan konteks ayat sebelum dan sesudah ayat di atas kita dapat menyatakan bahwa ayat ini tidak berbicara tentang kehidupan sebelum Kiamat, karena yang ditekankan di sini adalah ketidakmampuan menembus penjuru-penjuru langit serta bumi, dan hingga kini belum lagi bahkan tidak ada yang berhasil melakukannya. Hal ini membuktikan dengan jelas bahwa upaya menembus langit dan bumi yang berjarak jutaan tahun cahaya yang mustahil dapat diulakukan oleh jin dan manusia.

Tim penulis  menyatakan bahwa pendapat yang memahami ayat di atas berkaitan dengan kemampuan manusia menjelajah ruang angkasa tidak sejalan dengan konteks kemampuan manusia dean seudahnya. kesimpulannya, ayat 33 ini merupakan peringatan dan tantangan bagi mereka yang bermaksud menghindar dari tanggung jawabnya di hari Kemudian itu. Jika demikian, ayat ini tidak berbicara dalam konteks kehidupan duniawi-apalagi menyangkut kemampuan manusia menembus angkasa-luar tetapi semacam sebagai ancaman bagi yang hendak menghindar. Karena itu perintah di atas tembuslah bukan perintah untuk dilaksanakan, tetapi perintah menunjukkan ketidakmampuan memenuhinya.

  1. Kandungan pendidikan
Allah memerintahkan kepada golongan jin dan manusia untuk menembus (melintasi) ke penjuru langit dan bumi, arti perintah Allah ini hanya sekedar tantangan Allah untuk menguji dan melemahkan jin dan manusia. Jika mereka kuasan untuk keluar penjuru langit dan bumi dan semacamnya itu hanya ketentuan dan kekuasaan dari Allah S.W.T.

Mereka pun tidak mampu menembus (melintasi) kecuali dengan kekuatan, dan mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi dan juga mereka tidak kuasa. Dan yang dimaksud سلطان di sini adalah Dzat yang mempunyai kekuatan dan menguasai untuk memerintah.

Ayat di atas pada masa empat belas abad yang silam telah memberikan isyarat secara ilmiyah kepada bangsa Jin dan Manusia, bahwasanya mereka telah di persilakan oleh Allah untuk mejelajah di angkasa luar asalkan saja mereka punya kemampuan dan kekuatan; kekuatan yang dimaksud di sisni sebagaimana di tafsirkan para ulama adalah ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi, dan hal ini telah terbukti di era modern sekarang ini, dengan di temukannya alat transportasi yang mampu menembus angkasa luar, bangsa-bangsa yang telah mencapai kemajuan dalam bidang sains dan teknologi telah berulang kali melakukan pendaratan di Bulan, dan dapat kembali lagi ke bumi.

Kemajuan yang telah diperoleh oleh bangsa-bangsa yang maju (bangsa barat) dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi di abad modern ini, sebenarnya merupakan kelanjutan dari tradisi ilmiah yang telah dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan muslim pada abad pertengahan.

Isi kandungan surah ar-Rahman/55: 33 sangat cocok untuk kalian pelajari karena ayat ini menjelaskan pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan umat manusia. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat mengetahui benda-benda langit. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat menjelajahi angkasa raya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu menembus sekat-sekat yang selama ini belum terkuak. Hebat, bukan?

Manusia diberi potensi oleh Allah Swt. berupa akal. Akal ini harus terus diasah, diberdayakan dengan cara belajar dan berkarya. Dengan belajar, manusia bisa mendapatkan ilmu dan wawasan yang baru. Dengan ilmu, manusia dapat berkarya untuk kehidupan yang lebih baik. Nabi Muhammad saw. bersabda: “Dari Anas ibn Malik r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam”. (H.R. Ibn Majah)

Tentang pentingnya menuntut ilmu, Imam Syafi‘i dalam kitab Diwan juga menegaskan: “Barang siapa yang menghendaki dunia, maka harus dengan ilmu. Barang siapa yang menghendaki akhirat maka harus dengan ilmu”. Nasihat Imam Syafi‘i tersebut mengisyaratkan bahwa kemudahan dan kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat dapat dicapai oleh manusia melalui ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak akan mudah diperoleh, kecuali dengan beberapa cara dan strategi yang harus dilalui. Dalam hal ini Imam Syafi‘i dalam kitab Diwan menegaskan:

“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi enam syarat, yaitu: kecerdasan, kemauan yang kuat, kesungguhan, perbekalan yang cukup, dan kedekatan dengan guru dalam waktu yang lama.”

Ungkapan Imam Syafi‘i di atas penting diketahui oleh orang-orang yang sedang asyik menuntut ilmu. Cara ini perlu dilakukan agar berhasil. Perlu adanya semangat juang, harus dekat, akrab, dan hormat kepada guru agar ilmunya berkah. Mencari ilmu juga perlu waktu yang lama.

BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Allah memerintahkan kepada golongan jin dan manusia untuk menembus (melintasi) langit dan bumi tetapi mereka tidak mampu kecuali dengan kekuatan. Dalam ayat diatas Allah menantang golongan manusia dan jin, jika memang mampu menembus langit. Yang mana manusia dan jin tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan).

                                               DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Agama RI. 2011. Al-Quran dan Tafsirnya. Jakarta:Ikrar Mandiriabadi
http://blitarq-doel.blogspot.com/2013/03/ayat-ayat-tentang-ilmu-pengetahuan.html
http://anandaheristina.blogspot.com/2014/11/makalah-tafsir.html
https://fathurrohmanpaif.wordpress.com/2014/11/16/iptekwarisan-dan-kebutuhan-yang-tergadaikan/





[1] Kementrian Agama RI. 2011. Al-Quran dan Tafsirnya. Jakarta:Ikrar Mandiriabadi
22 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Labels

  • Artikel Makalah (9)
  • Filsafat Pendidikan Islam (1)
  • hadist tarbawy (1)
  • Komputer (1)
  • Makalah (13)
  • manajemen pendidikan (1)
  • Pengembangan & Inovasi Kurikulum (1)
  • Perbandingan Mazhab (1)
  • Perencanaan Pembelajaran PAI (1)
  • Picture (1)
  • PPMDI (1)
  • Psikologi Pembelajaran & Perkembangan (1)
  • Puisi (7)
  • tafsir tarbawy (2)
  • Teknologi Pendidikan (1)
  • Tips & Trik (1)
  • Ushul Fiqh (1)
  • Video (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  November (1)
      • MANUSIA DAN KEBUTUHAN DOKTRIN AGAMA*
  • ►  2016 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2015 (21)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (14)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (9)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (2)
    • ►  Desember (2)

Followers

Pages

  • Beranda
  • Tugas-tugasku
  • News
  • Laguku
Wawan Firmana. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kandungan QS. Ar Rahman Ayat 33 tentang Pendidikan (Teknologi)
    BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Memperhatikan ralita keterpurukan  kaum muslimin dewasa ini, kami mencoba mengupas ayat ilmu pe...
  • MADZHAB SHAHABI, SYAR’U MAN QABLANA, & SADD AL-ZARI’AH
    BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Berdasarkan telah ditetapkan bahwa dalil syar’i yang dijadikan dasar pengambilan hukum yang b...
  • Domain Teknologi Pendidikan
    1. Pengertian Domain atau kawasan teknologi pendidikan Secara etimologis, domain berarti kawasan, wilayah/daerah kekuasaan atau bidang k...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
    BAB   I PENDAHULUAN A.       LATAR BELAKANG             Sejak Indonesia merdeka kurikulum telah mengalami beberapa kali perubahan sec...
  • “AYAT-AYAT TENTANG METODE PENDIDIKAN YANG TEPAT”
    BAB I PENDAHULUAN A.     LATAR BELAKANG Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari Al Qur’an yang meru...
  • MOTIVASI DALAM BELAJAR
    BAB I P ENDAHULUAN A.     Latar Belakang Dewasa ini, sudah tak dapat dielakkan lagi bahwa minat untuk belajar seseorang akan mudah ...
  • Fiqh Wudhu dan Sholat
    A.    Latar Belakang Shalat adalah amalan yang pertama akan dihisab pada hari kiamat. Apabila baik shalatnya, maka dianggaplah baik ke...
  • Sejarah Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Mamluk
    Oleh: Wawan Firmana BAB I PENDAHULUAN A.    Latar Belakang Dalam sejarah peradaban Islam setelah masa pemerintahan khulafour-rasi...
  • STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING, PROBLEM BASED LEARNING & BERORIENTASI AKTIVITAS SISWA
    BAB I PENDAHULUAN A.     LATAR BELAKANG Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa: “Pendidik...
  • PEMIKIRAN KH. AHMAD DAHLAN TENTANG SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
    BAB I PENDAHULUAN   A.     Latar Belakang K.H. Ahmad Dahlan merupakan salah satu icon terbesar dan tersohor dari ribuan tokoh intelek...

leader of achievement

Unknown
Lihat profil lengkapku

Labels

  • Artikel Makalah (9)
  • Filsafat Pendidikan Islam (1)
  • hadist tarbawy (1)
  • Komputer (1)
  • Makalah (13)
  • manajemen pendidikan (1)
  • Pengembangan & Inovasi Kurikulum (1)
  • Perbandingan Mazhab (1)
  • Perencanaan Pembelajaran PAI (1)
  • Picture (1)
  • PPMDI (1)
  • Psikologi Pembelajaran & Perkembangan (1)
  • Puisi (7)
  • tafsir tarbawy (2)
  • Teknologi Pendidikan (1)
  • Tips & Trik (1)
  • Ushul Fiqh (1)
  • Video (2)

About

SEBUAH BLOG UNTUK BERKARYA DAN BERKREASI SERTA BERBAGI. PENYUSUN, PENYUNTING, PENULIS ADALAH SEORANG MAHASISWA SEMESTER VI FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM STAI BINAMADANI.

Arsip Blog

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  November (1)
      • MANUSIA DAN KEBUTUHAN DOKTRIN AGAMA*
  • ►  2016 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2015 (21)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (14)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (9)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2012 (2)
    • ►  Desember (2)

Yahoo.com

www.yahoo.com

Blogroll

STAI BINAMADANI

KAMPUS PEDULI UMAT

PATANG MENYERAH

TERUS BERUSAHA
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com